TUGAS 1
KOMUNIKASI BISNIS
Disusun Oleh :
FADILLAH
ILHAM ( 53214760 )
INTAN PUJI
LESTARI ( 55214381 )
KACHFI
ANUGRAH ( 5D214113 )
LITA SRI
RAHAYU ( 56214129 )
NARYATI (
57214821 )
SALSABILA (
59214954 )
KELAS: 2DF01
BAB I
DASAR KOMUNIKASI DAN KOMUNIKASI BISNIS
1.1 PENGERTIAN
KOMUNIKASI BISNIS & CAKUPAN KOMUNIKASI
A. Pengertian
Komunikasi Bisnis
Pertukaran gagasan, pendapat, informasi dan instruksi yang memiliki
tujuan tertentu yang disajikan secara personal atau impersonal melalui simbol -
simbol atau sinyal.
B. Pengertian
menurut Para Ahli
1. Menurut Rosenbaltt
Pengertian komunikasi bisnis menurut beliau ini dikemukakan dalam
sebuah pernyataan komunikasi bisnis merupakan pertukaran ide, opini, informasi,
instruksi dan sejenisnya, yang disajikan secara personal ataupun nonpersonal
melalui simbol atau tanda untuk mencapai tujuan perusahaan
2. Menurut Katz
Komunikasi Bisnis didefinisikan sebagai adanya pertukaran ide, pesan,
dan konsep yang berkaitan dengan pencapaian serangkaian tujuan komersil.
Komunikasi bisnis bisa diartikan sebagai komunikasi yang terjadi dalam dunia
bisnis dalam rangka mencapai tujuan dari bisnis tersebut.
3. Menurut Curtis
Komunikasi bisnis menurut Curtis adalah komunikasi dalam organisasi
bisnis yang di tunjukan untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan.
Menurutnya semakin tinggi kedudukan seseorang dalam suatu bisnis, maka dia
semakin bergantung pada keahlian orang lain dalam membuat suatu keputusan dan
memecahkan masalah untuk suatu keberhasilan.
C. Cakupan
Komunikasi Bisnis
Ruang lingkup komunikasi bisnis dapat diungkapkan sebagai berikut:
1.
Komunikasi pada saat penentuan jenis bisnis
(inovasi untuk menentukan jenis bisnis).
2.
Komunikasi pada saat penentuan lokasi, baik
dalam pemenuhan syarat-saratnya maupun prosedur untuk memperoleh izin tempat
usaha.
3.
Komunikasi pada saat pengadaan prasarana dan
sarana yang diperlukan dalam menyelenggarakian bisnis.
4.
Komunikasi pada saat pembentukan organisasi dan
manajemen yang akan mengelola perusahaan.
Komunikasi pada saat penentuan pengelolaan bisnis yang meliputi
berbagai bidang, seperti:
·
Komunikasi dalam pengelolaan produksi.
·
Komunikasi dalam pengelolaan pemasaran.
·
Komunikasi dalam pengelolaan personalia.
·
Komunikasi dalam pengelolaan keuangan.
·
Komunikasi dalam pengeloaan kantor atau
administrasi.
1.2 UNSUR – UNSUR
KOMUNIKASI BISNIS
A. Sumber
Merupakan dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan
dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga,
buku, dokumen dan sejenisnya.
B. Komunikator
Dalam komunikasi, setiap orang atau kelompok dapat menyampaikan
pesan-pesan komunikasi itu sebagai suatu proses dimana komunikator dapat
menjadi komunikan, sebaliknya komunikan dapat menjadi komunikator.
C. Pesan
Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan
menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra
kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan
atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi
secara nonverbal (tanpa kata).
Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita
berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan.
tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan
komunikasi.
D. Channel atau
Saluran
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali
komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga,
atau empat saluran yang berbeda secara simultan.
E. Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses, suatu kegiatan. Walaupun kita
mungkin membicarakan komunikasi seakan-akan ini merupakan suatu yang statis,
yang diam, komunikasi tidak pernah seperti itu. Segala hal dalam komunikasi
selalu berubah —kita, orang yang kita ajak berkomunikasi, dan lingkungan kita.
Komunikasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
1.
Komunikasi Personal, Komunikasi yang ditujukan kepada
satu orang saja (tunggal).
2.
Komunikasi Kelompok, Komunikasi yang ditujukan
kepada kelompok tertentu.
3.
Komunikasi Massa, Komunikasi yang ditujukan
kepada massa atau komunikasi yang menggunakan media massa.
F. Efek
Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih
orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Pada setiap tindak komunikasi
selalu ada konsekuensi. Efek dapat dilihat dari berbagai opinion meliputi :
1.
Personal Opinion
2.
Public Opinion
3.
Majority Opinion
G. Faktor yang
Diperhatikan dalam Proses Komunikasi
Komunikasi yang efektif harus dilaksanakan dengan empat tahap yaitu :
1.
Pengumpulan Fakta
Mengumpulkan data
dan fakta sebelum seseorang melakukan kegiatan komunikasi.
2.
Perencanaan
Berdasarkan fakta
dan data itu dibuatkan rencana tentang apa yang akan dibicarakan dan bagaimana
mengemukakannya.
3.
Komunikasi
Setelah
perencanaan disusun maka tahap selanjutnya adalah berkomunikasi.
4.
Evaluasi
Penilaian dan
analisa diperlukan untuk melihat bagaimana hasil dari komunikasi tersebut
1.3 BENTUK DASAR
KOMUNIKASI
Pada dasarnya ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam
praktek dunia bisnis maupun nonbisnis yaitu komunikasi verbal dan nonverbal.
Masing-masing bentuk komunikasi tersebut dapat dijelaskan secara singkat
sebagai berikut:
1.
Komunikasi Verbal (Verbal Communications)
Komunikasi verbal
merupakan salah satu bentuk komunikasi yang disampaikan kepada pihak lain
melalui tulisan (written) maupun lisan (oral). Dalam kehidupan sehari-hari
seperti Anda mengirim surat atau telepon kepada orang tua Anda, teman Anda,
pacar Anda, Anda berbincang-bincang atau ngobrol dengan teman Anda, Anda
ngerumpi dengan tangga sebelah, Anda membaca puisi di depan kelas, Anda
mempresentasikan makalah dalam suatu acara seminar, Anda membaca surat kabar,
majalah, jurnal, Anda mendengarkan radio, menyaksikan dan mendengarkan acara
televisi dan sejenisnya merupakan contoh bentuk-bentuk komunikasi verbal.
Dalam dunia
bisnis, beberapa contoh komunikasi verbal antara lain penyampaian pesan melalui
surat, memo, teknologi komunikasi modern, rapat pimpinan, briefing kepada
karyawan, wawancara kerja, dan presentasi. Penyampaian pesan lewat tulisan
maupun lisan tentu memiliki suatu harapan bahwa seseorang akan dapat membaca
atau mendengar apa yang akan dikatakan.
2.
Komunikasi Nonverbal
Bentuk komunikasi
yang paling mendasar dalam komunikasi bisnis adalah komunikasi nonverbal.
Menurut teori antropology sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka telah
menggunakan gerakan-gerakan tubuh, bahas a isyarat (body language) sebagai alat
untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berikut ini adalah beberapa contoh
perilaku yang ditunjukkan dengan komunikasi nonverbal:
a.
Seseorang yang sedang tersenyum dan melakukan
jabat tangan dengan orang lain untuk mewujudkan rasa senang, simpati dan
penghormatan.
b.
Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang
"grogi" (nervous) saat berpidato di depan umum? Coba simak dengan
baik, bagaimana gerak tangan dan kakinya? Bukankah tangan dan kakinya bergerak
atau bergetar secara tak teratur, bagaikan seseorang yang sedang kedinginan
c.
Seseorang yang menggelengkan kepala untuk
menunjukkan suatu sikap menolak atau
ketidaksetujuan terhadap sesuatu.
Komunikasi
nonverbal juga berbeda dengan komunikasi verbal dalam hal penyampaian suatu
pesan yaitu secara spontan. Pada umumnya, sebelum menyampaikan sesuatu,
seseorang sudah memiliki suatu rencana tentang apa yang ingin dikatakan.
Misalnya, ketika seseorang mengatakan "Tolong, bukakan pintu itu,"
maka pada saat itu seseorang dengan
sadar telah mempunyai tujuan atau maksud tertentu. Tetapi, ketika seseorang
berkomunikasi secara nonverbal, ia seringkali melakukan sesuatu secara tidak
sadar.
1.4 BISNIS DALAM
PANDANGAN KOMUNIKASI
Dalam konsep dan azas komunikasi modern yang lebih menekankan pada
kebutuhan komunikan dan kesiapan dari komunikan dalam proses komunikasi, hal
ini lebih pentinga dari fungsi pesan dan tujuan dari komunikator, ini
disebabkan oleh prinsip – prinsip yang lebih modern yang lebih mempertimbangkan
dan memperhitungkan pada peluang dari pada produksinya.
Walaupun konsep permintaan berkaitan dengan konsep permintaan (Anda
dapat mempelajari ekonomi mikro), tetapi dalam kenyataan di pasar tidak secara
otomatis jika pada saat kelebihan barang dan jasa secara langsung akan membuat
pasar menjadi jenuh atau sebaliknya dengan kelangkaan barang dan jasa akan
menyebabkan timbulnya suatu peluang pasar, mengapa demikian, hal ini disebabkan
oleh :
1.
Secara realita psikologis suatu kebutuhan dapat
diciptakan. Kebutuhan akan barang secara individual, dalam kontek ini peluang
pasar dapat di buat dengan mekanisme komunikasi secara berkesinambungan dengan
membentuk nilai – nilai social, preferensi dan fungsi.
2.
Peluang pasar ditentukan oleh citra, kebutuhan
dan perilaku konsumen tentang barang dan jasa. Jika suatu produk dapat
menyakinkan konsumen dalam hal kredibilitas, memiliki fungsi, ada jaminan
keamanan dan memiliki keunggulan lain, maka peluang pasar akan terbentuk.
Secara umum selalu timbul permasalahan dimana konsumen – pasar tidak
mengetahui informasi dan keberadaa barang dan jasa di pasar, yang disebabkan
umumnya kurang baik dan kurang memadai dalam menjalankan strategi komunikasi.
Hal ini harus dikembangkan strategi komunikasi yang baik dan efektif ke pasar,
yaitu dengan menjalankan promosi, seperti :
a.
Kegiatan hubungan antar manusia
b.
Kegiatan hubungan masyarakat
c.
Kegiatan advertensi atau iklan
d.
Kegiatan promosi melalui media elektronik
e.
Kegiatan promosi dan penjualan melalui media
internet
f.
Mengembangkan system informasi perusahaan
g.
Mengembangkan keahlian komunikator dalam bisnis
BAB II
PERANAN KOMUNIKASI DALAM BISNIS
2.1 Tujuan dari
komunikasi bisnis
1.
Informating (menginformasikan)
Dalam hal ini
memberikan informasi yang berkaitan dengan dunia bisnis bagi pihak lain,
misalnya seorang pemimpin perusahaan ingin mendapatkan pegawai atau karyawan
yang diharapkan maka ia memasang iklan melalui media masa menggunakan web situs
atau media sosial via internet
2.
Persuading (melakukan persuasi)
Melakukan atau
memberikan atau persuasi kepada pihak lain agar yang disampaikan dapat dipahami
dengan baik dan benar, hal ini sering dilakukan terutama yang berhubungan
dengan penegasan konfirmasi pesanan pelanggan atau negosiasi agar masing masing
pihak mendapat manfaat secara tanpa ada yang dirugikan.
3.
Collaborating (berkolaborasi)
Melakukan
kolaborasi atau kerja sama bisnis dengan orang lain.dengan terciptanya jalinan
komunikasi bisnis tersebut, kerja sama bisnis dapat dengan mudah dilakukan.
2.2 Umpan balik
& bentuknya
A. Pengertian
umpan balik
Dalam setiap kegiatan komunikasi merupakan kegiatan pengiriman dan
penerimaan lambang ataupun keinginan untuk mengubah pendapat orang lain yang
merupakan juga suatu usaha untuk mengadakan hubungan sosial. Pada peristiwa
lain, seorang pimpinan menegur anak buahnya karena berbuat kesalahan sehingga
anak buah tersebut menyesali perbuatannya. Pengarahan dan teguran tersebut disamakan
dengan pesan (message).
Sedangkan tepukan tangan dinamakan umpan balik. Antara umpan balik dan
pesan terdapat hubungan sebab akibat (causalitas). Pesan (message) itu dapat
berbentuk bermacam-macam seperti pidato, pengarahan, intruksi, tugas, perintah,
analisis, dll.
Pesan dapat juga berbentuk tulisan, lisan, gambar-gambar dan bahkan
demonstrasi atau penghargaan. Sebagaimana pesan maka umpan balikpun dapat
berupa tulisan, lisan, peragaan, dsb. Umpan balik yang baik diperlukan
syarat-syarat tertentu antara lain :
1.
Umpan balik hendaknya bersifat hasil oriented
bukan person oriented. Dalam hal ini maka yang diutamakan bukan orangnya tetapi
kerjanya.
2.
Umpan balik hendaknya jujur,umpan balik yang
tidak jujur bersumber pada kebiasaan untuk menyenangkan orang lain.
3.
Umpan balik hendaklah tentang sesuatu yang
khusus dan jelas buka sesuatu secara umum dan kabur.
4.
Umpan balik hendaklah mengenai sesuatu dimana
orang yang bersangkutan dapat berbuat apa-apa. Umpan balik tentang sesuatu di
mana orang yang bersangkutan tidak dapat berbuat apa-apa adalah umpan balik
yang tidak berguna dan malah bisa menimbulkan perasaan mendongkol dan umpan
balik hendaklah jangan bersifat penilaian.
5.
Umpan balik hendaknya memperhatikan timing,
tidak ada patokan tentang waktu.
B. Bentuk-
Bentuk Umpan Balik
1.
External Feedback
Umpan balik yang
baik diterima langsung oleh komunikator dari komunikan.
2.
Internal Feedback
Umpan balik yang
diterima komunikator bukan dari komunikan akan tetapi datang dari pesan itu
sendiri atau dari komunikator itu sendri.
3.
Direct Feedback atau Immediate Feedback
Umpan balik
langsung dalam suatu komunikasi, komunikan menggerakkan salah satu anggota
badannya.
4.
Indirect Feedback atau Delaiged Feedback
Dalam bentuk surat
kepada redaksi surat kabar, penyiar radio, dll. Hal ini umpan balik membutuhkan
waktu.
5.
Inferential Feedback
Umpan balik yang
diterima dalam komunikasi massa yang disimpulkan sendiri oleh komunikator
meskipun secara tidak langsung akan tetapi cukup relevan dengan pesan yang
disampaikan.
6.
Zero Feedback
Artinya bahwa
komunikasi yang disampaikan oleh kemunikator kepada komunikan meskipun
komunikan menyampaikan umpan balik tersebut tidak dipahami oleh komunikator.
7.
Neutral Feedback
Umpan balik yang
netral berarti bahwa informasi yang diterima kembali oleh komunikator tidak
relevan dengan pesan yang disampaikan semula.
8.
Positive Feedback
Komunikasi yang
disampaikan oleh komunikator kepada kemunikan mendapat tanggapan positif,
misalnya dengan adanya penerimaan pada pesan yang disampaikan.
9.
Negative Feedback
Komunikasi yang
disampaikan oleh kemunikator mendapat tantangan dari komunikan.
2.3 Kesalahpahaman
dalam komunikasi
Munculnya kesalah-pahaman komunikasi dalam suatu pidato, ada
kecenderungan beberapa pesan tidak dapat dimengerti oleh penerima pesan dengan
baik. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor penghambat komunikasi antara
pengirim dan penerima pesan. Faktor–faktor penghambat komunikasi tersebut
mencakup antara lain :
1.
Masalah dalam mengembangkan pesan
2.
Masalah dalam menyampaikan pesan
3.
Masalah dalam menerima pesan
4.
Masalah dalam penafsiran pesan
2.4 Memperbaiki
komunikasi dalam organisasi
Untuk dapat melakukan komunikasi yang efektif diperlukan beberapa
persyaratan antara lain: presepsi, ketetapan, kreadibilitas, pengendalian, dan
kecocokan atau keserasian.
Komunikasi yang efektif dapat mengatasi berbagai hambatan yang
dihadapi dengan memperhatikan tiga hal sebagai berikut :
1.
Membuat suatu pesan secara lebih berhati-hati
2.
Meminimalkan gangguan dalam proses komunikasi
3.
Mempermudah upaya umpan balik antara si pengirim
dan si penerima pesan
BAB III
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
3.1 Pola Komunikasi
Bisnis
Secara umum pola kumunikasi dibedakan menjadi 2 saluran, yaitu :
A. Saluran Komunikasi Formal
Dalam struktur
organisasi, garis, fungsional, maupun matriks, akan tampak berbagai macam
posisi atau kedudukan masing-masing sesuai dengan batas tanggung jawab dan
wewenangnya. Dalam kaitannya dengan proses penyampaian informasi dari manajer
kepada bawahan, pola transformasi informasinya dapat berbentuk 3 pola yaitu:
1.
Komunikasi dari atas ke bawah
Komunikasi dari atas ke bawah (top-down)merupakan jalur
komunikasi yang berasal dari atas (manajer) ke bawah (karyawan) merupakan penyampaian
pesan yang dapat berbentuk perintah, instruksi, maupun prosedur untuk
dijalankan para bawahan dengan sebaik-baiknya. Menurut Katz dan Kahn,
komunikasi ke bawah mempunyai 5 tujuan pokok yaitu:
·
Memberikan pengarahan atau instruksi kerja
tertentu,
·
Memberikan informasi kenapa pekerjaan itu harus
dilaksanakan,
·
Memberikan informasi tentang prosedur dan
praktik organisasional,
·
Memberikan umpan balik pelaksanaan kerja kepada
para karyawan,
·
Menyajikan informasi mengenai aspek ideologi
dalam membantu organisasi menanamkan pengertian tentang tujuan yang ingin
dicapai.
2.
Komunikasi dari bawah ke atas
Atau
disebut buttom-up communication berarti alur pesan yang disampaikan berasal
dari bawah (karyawan) menuju ke atas (manajer). Pesan mula-mula berasal dari
para karyawan yang selanjutnya disampaikan ke jalur yang lebih tinggi.
3.
Komunikasi Horizontal
Atau horizontal communication atau sering disebut
komunikasi lateral (lateral communication) adalah komunikasi yang terjadi
antara bagian-bagian yang memiliki posisi sejajar atau sederajat dalam suatu
organisasi. Tujuan komunikasi horizontal antara lain untuk melakukan persuasi,
mempengaruhi, dan memberikan informasi kepada bagian atau departemen yang
memiliki kedudukan sejajar.
4.
Komunikasi Diagonal
Atau diagonal communication melibatkan komunikasi antara
dua tingkat (level) organisasi yang berbeda. Contohnya adalah komunikasi formal
antara manager pemasaran dengan bagian pabrik, antara manager produksi dengan
bagian promosi, antara manager produksi dengan bagian akuntansi dan lain
sebagainya.
B. Saluran Komunikasi Informal
Dalam jaringan
komunikasi informal, orang-orang yang ada dalam suatu organisasi, tanpa
mempedulikan jenjang hierarki, pangkat, dan kedudukan atau jabatan, dapat
berkomunikasi secara luas. Meskipun hal-hal yang mereka perbincangkan biasanya
bersifat umum, seperti mengobrol tentang humor yang baru di dengar, keluarga,
anak-anak, dunia olahraga, musik, acara film, dan sinetron tv, dan kadang kala
mereka juga membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan situasi kerja yang ada
dalam organisasinya.
3.2 Mengelola
Komunikasi Bisnis
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola komunikasi, yaitu :
A. Penanganan pesan-pesan yang bersifat rutin
Untuk dapat memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya, seorang
manajer perlu memperhatikan hal berikut ini:
1.
Mengurangi jumlah pesan
2.
Instruksi yang jelas
3.
Mendelegasikan tanggung jawab
4.
Melatih petugas
B. Penanganan Krisis Komunikasi
Cara penanganan krisis di suatu perusahaan tentu berbeda dengan
perusahaan lain. Namun, munculnya krisis dalam suatu perusahaan dapat mempunyai
pengaruh terhadap masa depan produk maupun reputasi perusahaan bersangkutan.
Dalam kaitannya dengan krisis komunikasi tersebut, ada 2 falsafah dalam komunikasi yaitu:
1.
Bersikap diam, tidak mengatakan sesuatu, atau
2.
Katakan apa yang terjadi dan segera
Namun, beberapa ahli hubungan masyarakat (public relation) menyarankan
agar perusahaan menangkis rumor yang beredar dalam masyarakat dengan cara
menjelaskan dengan cara apa yang menjadi masalahnya secara terbuka tanpa
ditutup-tutupi kepada public (masyarakat umum) dan karyawan-karyawannya.
Dalam situasi krisis komunikasi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan
seperti :
1.
Siapkan tim yang terampil atau cekatan dalam
penanganan krisis
2.
Usahakan agar manajemen puncak segera bertindak
pada saat krisis terjadi
3.
Ciptakan sebuah pusat informasi sebagai
representasi perusahaan yang dilengkapi dengan berbagai peralatan elektronik
komunikasi
4.
Ceritakan suatu kejadian secara menyeluruh,
terbuka, dan jujur. Jika memang ada yang salah segera mohon maaf
5.
Tunjukkan keseriusahan perusahaan, bukan saja
dalam pernyataan tetapi dalam wujud nyata.
3.3 Masalah
komunikasi dalam organisasi
Struktur organisasi telah mengalami perubahan yang sangat besar dalam beberapa
dekade terakhir. Struktur organisasi saat ini jauh lebih besar dan lebih
kompleks daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, mereka
lebih rentan terhadap kemacetan komunikasi. Sifat, dinamika dan fungsi
organisasi merupakan hambatan penting untuk komunikasi yang efektif. Kondisi
berikut merupakan masalah komunikasi umum yang menyebabkan rendahnya efektivitas
organisasi :
A. Tingkatan Organisasi
Setiap kali satu orang memiliki posisi yang lebih tinggi dalam hirarki
organisasi dari orang lain. Ada masalah potensial dalam kemampuan mereka untuk
berkomunikasi dengan satu sama lain. Seringkali prioritas ditetapkan sesuai
dengan orang yang meminta layanan daripada yang paling membutuhkan: itu juga
menyangkut kurangnya pengetahuan tentang siapa melakukan apa di departemen.
masalah khusus lainnya adalah jarak fisik antara anggota organisasi,
spesialisasi fungsi-fungsi dan kepemilikan informasi.
B. Hubungan Status
Salah satu hambatan mendasar untuk komunikasi organisasi adalah
hubungan status dalam setiap organisasi. Status datang dalam berbagai bentuk
dalam sebuah organisasi (misalnya ukuran kantor, karpet, perabotan kantor, alat
tulis, sekretaris pribadi, mobil, tempat parkir, gaji atau fungsi pekerjaan).
Apapun bentuknya, status mengganggu komunikasi yang efektif antara orangorang
pada tingkat yang berbeda. Status
hubungan “atasan”,“bawahan”. Misalnya menghambat aliran bebas informasi
dalam organisasi.
Masalah komunikasi akibat perbedaan status hubungan dapat hasil dari
konsep “keseluruhan”; satu orang mengasumsikan tahu itu semua sikap dan tidak
berinteraksi dengan orang lain. Manajemen harus dalam situasi semacam ini
mencoba untuk menanamkan sikap objektivitas dalam masing-masing anggota,
menunjukkan keuntungan
mengendalikan ego atau menyimpannya di belakang dan
menunjukkan bagaimana kompromi antara ego bersaing kadangkadang yang terbaik
untuk masing-masing individu maupun bagi organisasi. Perbedaan status harus
ditekankan kembali atau komunikasi yang efektif tidak dapat terjadi.
Meskipun fakta hubungan
status diberikan dalam
organisasi apapun, suasana
persetujuan komunikatif dapat dikembangkan sehingga pesan tidak dalam persaingan
konstan ke atas dan ke bawah. Masalah organisasi lain yang harus ditangani
terkait dengan kurangnya pengetahuan tentang siapa melakukan apa di departemen.
C. Kurangnya pemahaman organisasi
Dalam perkembangannya, organisasi dinamis dalam promosi dan transfer
personil kadang-kadang sering terjadi, berkontribusi terhadap kesalahpahaman
anggota organisasi atau tidak memahami tanggung jawab, kebutuhan, dan
permasalahan divisi yang terpisah dalam struktur bisnis.
D. Jarak fisik antara anggota
Semakin banyak link yang ada dalam rantai komunikasi dan lebih jauh
adalah penerima dari pengirim.
Semakin sulit akan
untuk sukses pesan.
Dengan demikian kedekatan
dapat memfasilitasi dan menghambat
jarak informatif dan
tepat waktu komunikasi.
Kesalahan mungkin terletak pada struktur dan prosedur organisasi
konvensional, sehingga membutuhkan studi mendalam tentang praktik saat ini.
Salah satu cara yang mungkin untuk memperbaiki kesalahan bagi kurangnya
keberhasilan pesan akan mengurangi jarak fisik antara anggota organisasi, yaitu,
mempersingkat jumlah link
pesan yang harus
dilalui untuk mencapai tujuannya. masalah jarak fisik
adalah salah satu alasan untuk ”jembatan” komunikasi horizontal.
Ini dapat menimbulkan spesialisasi pekerjaan. yang juga senyawa
kebutuhan untuk memahami komunikasi antar berbagai tingkatan.
E. Spesialisasi tugas
Dengan meningkat penekanan akhir-akhir ini pada spesialisasi
pekerjaan, tidak sulit untuk melihat
bagaimana seseorang dianggap
sebagai ahli di
daerah tertentu mungkin
sulit berkomunikasi dengan baik dengan ahli lain di daerah yang sama
sekali tidak berhubungan. Sebagai contoh, ketika seseorang melakukan tugas X
dan orang lain melakukan tugas Y, mereka mungkin memiliki
lebih sedikit hal
untuk dikomunikasikan daripada
jika mereka berdua melakukan tugas yang sama.
F. Kepemilikan Informasi
Di mana pun nilai yang lebih besar ditempatkan pada prestasi dengan
posisi atau pengetahuan daripada prestasi dengan kerja sama, akan muncul
menjadi kekuatan yang diperoleh “pemilik” informasi penting. (Misalnya untuk
memiliki informasi adalah untuk memiliki kekuatan). jika manajemen menentukan
bahwa salah satu
bidang organisasi tampaknya
terjebak dalam kepemilikan pesan,
mungkin perlu untuk melakukan pekerjaan pembinaan tentang perlunya upaya tim.
Manajemen juga mungkin perlu menanamkan kebanggaan dalam kerja kelompok dan
menunjukkan kebutuhan untuk pemenuhan dengan kerjasama dengan anggota
organisasi lainnya.
Apakah kepemilikan informasi menjadi penghalang mungkin tergantung
pada intensitas aspirasi orang-orang yang terlibat dan pada mode prestasi
mereka.Seperti hampir selalu, manajemen harus memberi contoh.
G. Kesalahan Dalam Mentransmisi Informasi
Penghalang besar lain antara orang-orang yang dipisahkan oleh beberapa
organisasi atau tingkat adalah perubahan pesan melewati karena perjalanan
sepanjang hirarki.
Kesalahan mentransmisi informasi dapat terjadi karena penggunaan
ceroboh dari kata-kata, ketergantungan
pada kata-kata yang
salah untuk menyampaikan
makna atau kekurangan pengirim penerima. Sebuah
ilustrasi sederhana transmisi yang rusak mengamati apa yang terjadi ketika
orginator pesan dan penerima pesan yang dipisahkan oleh beberapa individu yang
harus menyampaikan informasi. Proses
ini dikenal sebagai “komunikasi serial”
karena A mengkomunikasikan pesan
ke B, yang
kemudian mengirimkan pesan
itu ke C,
yang menyampaikannya ke D dan lain-lain, sampai penerima akhir memiliki
informasi tersebut.
Terlepas dari arah dimana pesan dapat mengalir, hal ini sangat rentan
terhadap penyimpangan dan gangguan. Pesan jarang keluar cara masuk ke saluran
karena ide, sikap dan keyakinan mereka mengirim dan menerima pesan. Dengan
demikian, manajemen harus mengasumsikan bahwa
pesan mereka, ketika
dikirim melalui beberapa
link dalam rantai
hierarkis, akan terdistorsi.
H. Blinderedness (tutup mata)
Blinderedness diciptakan oleh william V haney dan menjelaskan apa yang
terjadi ketika seseorang, hanya sebagai penutup mata kuda memakai, dapat
melihat hanya lurus ke depan. Manajer yang tampaknya memakai penutup mata
dicegah dari melihat lebih dari satu cara untuk melakukan sesuatu.
Cara untuk menghindari penutup mata adalah mengingat selalu ada
alternatif tindakan yang dapat diambil untuk hampir setiap rencana. Penutup
mata pada dasarnya adalah kebiasaan yang kaku terhadap pemikiran dan perasaan
dan pencegah terhadap pencapaian tujuan melalui proses komunikasi. Setiap
manajer mulai merasa hanya ada satu cara untuk melakukan sesuatu, mereka harus
mulai mencari cara lain untuk segera. Setelah semua, “masih ada banyak cara
untuk mencapai tujuan”
I. Defensif / pembelaan diri
Penghalang terakhir yang
harus dipertimbangkan dalam
bab ini adalah
pembelaan diri, ketidakamanan
anggota organisasi yang cenderung mendistorsi pertanyaan ke tuduhan dan balasan
menjadi pembenaran. Defensif adalah tindakan melindungi pandangan sendiri dan
mungkin merupaakan keadaan agak emosional pikiran.
Ada beberapa penyebab defensif. Salah satu penyebab adalah citra diri
kita sendiri. Itu trauma untuk memiliki citra diri Anda sendiri ditantang untuk
berdiri risiko kehilangan kemampuan untuk memprediksi, kontrol dan tahu diri
sendiri. Bahkan rasa takut untuk perubahan adalah dasar defensif. Jika Anda
perseptor ancaman, baik persepsi dan perilaku berikutnya akan terpengaruh.
Penyebab lain dari pertahanan diri adalah ketidak mampuan kebanyakan
orang untuk mentolerir perbedaan lainnya. Kita tidak hanya tak boleh mentolerir
perbedaan dalam hal objektivitas, tapi kita tidak bisa menerima perbedaan
mengenai masalah-masalah subjektivitas jika kita tidak sadarmemperlakukan
mereka sebagai hal objektivitas.
Meskipun sikap defensif adalah lebih besar pada beberapa orang dari
pada orang lain. Ini tidak mempengaruhi perilaku orang yang terlibat dalam
pertemuan komunikatif. Dengan demikian, dapat memiliki siklus mengabadikan diri
sangat merusak. Misalnya :
Orang yang berperilaku membela diri, meskipun ia juga memberikan
perhatian pada tugas bersama mencurahkan porsi yang cukup energi untuk membela
diri.
BAB IV
CONTOH KASUS
1. Contoh Kasus Hak Pekerja
Konflik buruh dengan PT
Megariamas
Sekitar 500 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Garmen Tekstil
dan Sepatu-Gabungan Serikat Buruh Independen (SBGTS-GSBI) PT Megariamas
Sentosa, Selasa (23/9) siang ‘menyerbu’ Kantor Sudin Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Nakertrans) Jakarta Utara di Jl Plumpang Raya, Kelurahan Semper
Timur, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka menuntut pemerintah mengambil
tindakan tegas terhadap perusahaan yang mempekerjakan mereka karena mangkir
memberikan tunjangan hari raya (THR).
Ratusan buruh PT Megariamas Sentosa yang berlokasi di Jl Jembatan III
Ruko 36 Q, Pluit, Penjaringan, Jakut, datang sekitar pukuk 12.00 WIB. Sebelum
ditemui Kasudin Nakertrans Jakut, mereka menggelar orasi yang diwarnai aneka
macam poster yang mengecam usaha perusahaan menahan THR mereka. Padahal THR
merupakan kewajiban perusahaan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 4/1994 tentang THR.
“Kami menuntut hak kami untuk mendapatkan THR sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Dan jangan dikarenakan ada konflik internal kami tidak
mendapatkan THR, karena setahu kami perusahaan garmen tersebut tidak merugi,
bahkan sebaliknya. Jadi kami minta pihak Sudin Nakertrans Jakut bisa
memfasilitasi kami,” jelas Abidin, koordinator unjuk rasa ketika berorasi di
tengah-tengah rekannya yang didominasi kaum perempuan itu, Selasa (23/9) di
depan kantor Sudin Nakertrans Jakut. Sekedar diketahui ratusan buruh perusahaan
garmen dengan memproduksi pakaian dalam merek Sorella, Pieree Cardine, Felahcy,
dan Young Heart untuk ekspor itu telah berdiri sejak 1989 ini mempekerjakan
sekitar 800 karyawan yang mayoritas perempuan.
Demonstrasi ke Kantor Nakertrans bukan yang pertama, sebelumnya
ratusan buruh ini juga mengadukan nasibnya karena perusahan bertindak
sewenang-wenang pada karyawan. Bahkan ada beberapa buruh yang diberhentikan
pihak perusahaan karena dinilai terlalu vokal. Akibatnya, kasus konflik antar
buruh dan manajemen dilanjutkan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Karena itu,
pihak manajemen mengancam tidak akan memberikan THR kepada pekerjanya.
Mengetahui hal tersebut, ratusan buruh PT Megariamas Sentosa mengadu
ke kantor Sudin Nakertrans Jakut. Setelah dua jam menggelar orasi di depan
halaman Sudin Nakertrans Jakut, bahkan hendak memaksa masuk ke dalam kantor.
Akhirnya perwakilan buruh diterima oleh Kasudin Nakertrans, Saut Tambunan di
ruang rapat kantornya. Dalam peryataannya di depan para pendemo, Sahut Tambunan
berjanji akan menampung aspirasi para pengunjuk rasa dan membantu menyelesaikan
permasalahan tersebut. "Pasti kami akan bantu, dan kami siap untuk menjadi
fasilitator untuk menyelesaikan masalah ini," tutur Sahut.
Selain itu, Sahut juga akan memanggil pengusaha agar mau memberikan
THR karena itu sudah kewajiban. “Kalau memang perusahaan tersebut mengaku
merugi, pihak manajemen wajib melaporkan ke pemerintah dengan bukti konkret,”
kata Saut Tambunan kepada beritajakarta.com usai menggelar pertemuan dengan
para perwakilan demonstrasi.
Sesuai peraturan, karyawan dengan masa kerja di atas satu tahun berhak
menerima THR. Sementara bagi karyawan dengan masa kerja di bawah satu tahun di
atas tiga bulan, THR-nya akan diberikan secara proporsional atau diberikan
sebesar 3/12X1 bulan gaji. Karyawan yang baru bekerja di bawah tiga bulan bisa
daja dapat tergantung dari kebijakan perusahaan.
Saut menambahkan, sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang didemo
karena mangkir membayar THR. “Sesuai dengan peraturan H-7 seluruh perusahaan
sudah harus membayar THR kepada karyawannya. Karena itu, kami upayakan
memfasilitasi. Untuk kasus karyawan PT Megariamas Sentosa memang sedang ada
sedikit permasalahan sehingga manajemen sengaja menahan THR mereka. Namun,
sebenarnya itu tidak boleh dan besok kami upayakan memfasilitasi ke manajemen
perusahaan.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk kawasan Jakarta Utara tercatat ada
sekitar 3000 badan usaha atau perusahaan di sektor formal. Untuk melakukan
monitoring, pihaknya menugaskan 15 personel pengawas dan 10 personel mediator
untuk menangani berbagai kasus seperti kecelakaan kerja, pemutusan hubungan
kerja, tuntutan upah maupun upah normatif dan THR. “Kami masih kekurangan
personel, idealnya ada 150 personel pengawas dan 100 personel mediator,” tandas
Saut Tambunan.
Tanggapan Kasus
Dalam kasus ini, kita tidak dapat menyalahkan atau menuntut kedua
belah pihak untuk memberikan apa yang pihak lain inginkan. Baik buruh maupun
perusahaan mengalami kerugian karena konflik ini. Pihak buruh tidak salah,
karena memang menuntut haknya. Dan pihak perusahaan juga pasti memiliki alasan
yang kuat untuk tidak memberikan uang Tunjangan Hari Raya (THR). Mungkin
menurut para buruh perusahaan memiliki keuntungan yang besar namun bisa jadi
ada masalah internal dalam manajemen yang sedang terjadi dan hal tersebut
menjadi rahasia orang-orang di manajemen atas.
Konflik Buruh Dengan PT Megariamas terjadi akibat kurangnya komunikasi
internal yang baik antara perusahaan dan buruh. Komunikasidalam menjalankan
suatu bisnis adalah hal yang sangat penting demi menjaga kelangsungan bisnis
yang dijalani, mengapa ? Komunikasi adalah kunci yang dapat membangun tim yang
kuat dan mendorong bisnis terhadap kinerja yang lebih baik.
Konflik ini membuat terjadinya ketegangan diametris hubungan atasan
dengan bawahan yang menjadi bentuk akibat penyimpangan etika bisnis internal
perusahaan. Hal ini terjadi mungkin karena ketimpangan dalam proses penilaian
kinerja, standar penilaian, dan perbedaan persepsi atasan-bawahan tentang hasil
penilaian kinerja.
Komunikasi Bisnis meliputi pengetahuan yang menyeluruh dari sisi
internal dan eksternal bisnis tersebut. Komunikasi yang internal termasuk
komunikasi visi (perseroan/perusahaan), strategi, rencana-rencana,
kultur/budaya perusahaan, nilai-nilai dan prinsip dasar yang terdapat di perusahaan,
motivasi karyawan, serta gagasan-gagasan, dll. Komunikasi eksternal termasuk
merek, pemasaran, iklan, hubungan pelanggan, humas, hubungan-hubungan media,
negosiasi-negosiasi bisnis, dll. Bagaimanapun bentuknya, semua hal tersebut
memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan suatu nilai bisnis (create
business value). Karena Komunikasi bisnis ini merupakan komunikasi yang terjadi
di dunia bisnis, kita tidak boleh melanggar norma-norma yang ditetapkan oleh
dunia bisnis ketika melakukan komunikasi.
Saran dari Permasalahan
Seharusnya perusahaan lebih menjalin komunikasi yang baik pada buruh
dan buruh juga harus mencari tahu lebih pasti alasan mengapa perusahaan tidak
memberikan Tunjangan Hari Raya (THR). Perwakilan dari buruh dan manajemen harus
berkomunikasi untuk membahas tentang hak dan kepentingan masing-masing demi
menghindarkan konflik yang membuat kedua belah pihak saling dirugikan. Dengan
menghilangkan rasa takut dan menanamkan kepercayaan buruh melalui komunikasi
langsung dan teratur, banyak kesalahpahaman dan miskomunikasi yang akan dapat
diselesaikan secara damai. Hal ini membuat lebih mudah bagi perusahaan untuk
meminimalkan sengketa yang tidak perlu dan membebaskan pikiran para buruh untuk
lebih fokus pada tugas.
Jika komunikasi telah berlangsung dengan baik antara buruh dan
perusahaan, maka antara perusahaan dan dan buruh akan terjalin keterikatan
seperti simbiosis mutualisme.
2. Contoh Kasus Komunikasi Bisnis:
Bapak A mengawali usahanya sebagai penjual bakso keliling. Setiap
pagi-pagi sekali dia selalu pergi ke pasar membeli bahan untuk membuat
bakso.Sepulang dari pasar, Bapak A dibantu istri dan anaknya menyiapkan segala
keperluan untuk membuat bakso. Sejak awal berjualan, Bapak A selalu memilih
bahan-bahan yang terbaik untuk menjaga kualitas bakso jualannya. Setelah bakso
dan uba rampenya siap, sekitar jam 4 sore Bapak A mulai menjajakan baksonya
dengan menggunkan gerobak. Ada sekitar 8 kampung yang didatangi Bapak A untuk
berjualan bakso bahkan disaat hujan sekalipun tidak menyurutkan semangat Bapak
A untuk tetap menjajakan baksonya. Bila sedang ramai, jam 9 malam Bapak A sudah
bisa kembali ke rumah. Namun saat sedang sepi, sampai tengah malam baru kembali
ke rumah. Itupun masih dengan dagangan yang masih tersisa. Berbagai pengalaman
pahit maupun manis pernah dialami Bapak A. Mulai dari dagangan yang diborong
orang mabuk tanpa dibayar, dirampas uang hasil penjualan baksonya, sampai
ditabrak metromini. Namun Bapak A tetap bersemangat berjualan bakso.
Lambat laun jumlah pelanggan bakso Bapak A mulai banyak. Bapak A yang
sudah menyisihkan sebagian uang dari sebagian keuntungan penjualan baksonya
sejak 10 tahun yang lalu akhirnya punya uang untuk menyewa sebuah ruko kecil di
pasar kecamatan. Langkah cerdas yang dilakukan Bapak A seminggu menjelang
kepindahanya di tempat jualan yang menetap, dia membagikan brosur kecil kepada
para pelanggannya yang berisi informasi mengenai dimana dia akan berjualan
secara menetap. Hal ini akan memudahkan para pelanggan untuk menemukan dimana
Bapak A berjualan.
Ternyata keputusan untuk berjualan secara menetap di pasar kecamatan
merupakan keputusan yang tepat. Kurang dari setahun usaha jualan bakso Bapak A
berkembang dengan pesat dan mampu membeli ruko yang selama ini disewa untuk
tempat berjualan bahkan Bapak A juga membeli 3 ruko disamping ruko yang
ditempati sekarang. Sampai akhirnya tepat setahun setelah berjualan secara
menetap, Bapak A juga bisa membuka 3 cabang warung baksonya di ibukota
kabupaten. Sejak saat itu, usaha jualan bakso Bapak A terus berkembang hingga
sampai saat ini telah mempunyai cabang sebanyak 50 warung bakso yang tersebar
di berbagai kota di Indonesia. Sampai akhirnya saat ini bisnis jualan bakso
telah dilakukan secara franchise mengingat banyaknya permintaan untuk membuka
cabang di beberapa kota lainnya. Dengan mengembangkan usaha secara franchise,
secara otomatis Bapak A harus mensuplai kebutuhan bakso pada setiap cabang. Hal
inilah yang mendorong Bapak A untuk mendirikan usaha pembuatan bakso. Bila
semula produksi baksonya hanya untuk mencukupi kebutuhan cabang, lambat laun
hasil produksi baksonya tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri namun
juga telah mampu menghiasi rak-rak di beberapa supermarket besar tingkat
nasional
Berawal dari berjualan bakso secara keliling yang kemudian meningkat
menjadi berjualan menetap di sebuah ruko sampai akhirnya memiliki perusahaan
yang memproduksi bakso telah mengantarkan kisah sukses Bapak A untuk menjadi
salah satu pengusaha yang berhasil di Indonesia. Berkat ketekunan, kejujuran,
keuletan, serta jiwa pantang menyerah telah membuktikan bahwa tidak ada sesuatu
yang tidak mungkin diraih apabila kita mau berusaha.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.peribahasaindonesia.com/bentuk-bentuk-dasar-komunikasi/
http://ramahriza.blogspot.co.id/2013/06/32unsur-unsur-komunikasi-bisnis.html
http://ula-silvi.blogspot.co.id/2012/06/pengertian-komunikasi-bisnis.html
http://idesideas2.blogspot.co.id/2015/04/tugas-1-komunikasi-bisnis.html
http://riantisukmaayu.blogspot.com/2014/01/contoh-kasus.html#!/2014/01/contoh-kasus.html
http://muktikomunikasi.blogspot.co.id/2014/06/hambatan-komunikasi-organisasi.html
http://astrianjanyrayki.blogspot.com/2014/03/makalah-komunikasi-bisnis-komunikasi.html
http://comunitaseconomic.blogspot.com/2012/10/komunikasi-bisnis_6.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar