Biografi
Para
Pengusaha Sukses
Johnny Andrean
(Pemilik : Salon Johnny Andrean ---- J.CO --&--
BreadTalk)
Anak bangsa yang berbakat dan sukses dalam bisnis yang dirintisnya
yaitu Johnny Andrean. Kesuksesan pria kelahiran Pontianak ini tak lepas dari insting
dan naluri bisnisnya yang sangat tajam. Traveling adalah hobi Johnny
yang seringkali memberinya inspirasi dan ide-ide kreatif untuk membangun
dan mengembangkan bisnisnya. Tak kelak bisnis salonnya kemudian sukses merambah
dan merajai berbagai wilayah di seluruh penjuru tanah air. Kesuksesan di usaha
salon, ternyata tak membuat Johnny puas. Ia kemudian meluaskan bisnisnya
ke bidang bisniskuliner. Dengan ide kreatifnya,
ia lalu membawa brand besutannya, Breadtalk, dari Singapura ke Indonesia dengan
konsep baru yang kemudian laris manis. Dengan insting bisnisnya yang menawan
pula, Johnny kemudian mengekspansi lagi bisnisnya tahun 2005 dengan membuka
gerai donat J.Co yang kini juga
telah menjadi primadona masyarakat. Berikut ini adalah uraian tentang
usaha dan bisnisnya yang dijalani oleh beliau.
Salon
Johnny Andrean
Awal merintis bisnis salon merupakan bekal dan modal Johnny untuk mengawali
bisnisnya tahun 80-an di tanah perantauan Jakarta. Dengan bekal yang dia dapat
dari ibunya kemudian Johhny membuka sebuah salon di ujung utara Jakarta. Saat mengawali
bisnis salon ini, Johnny mengakui perjalanannya tidak mudah dan mulus. Banyak
rintangan dan halangan yang menghadang perjalanan bisnis salon Johnny Andrean.
Tantangan umum yang seringkali dialaminya adalah
menjaga hairstylist mereka agar tetap mau bekerja di salonnya.
Tahun 1998, rintangan terbesar dalam bisnisnya datang menghampiri
dirinya. Saat itu 19 gerai salonnya menjadi korban penjarahan orang-orang yang
tak bertanggungjawab dalam peristiwa tragedi Mei 1998. Meski demikian Johnny
tak patah arah, ia bersama dengan karyawan setia dan sisa gerai salon yang ada
mulai menata dan membangun kembali bisnisnya. Walau harus berpindah-pindah di
antara salon yang masih beroperasi, Johnny dan karyawan setianya terus berjuang
dan bekerja keras. Hasilnya perlahan-lahan bisnis salonnya pun kembali tumbuh
dan berkembang.
Setelah mulai bisa berkembang, Johnny mendirikan sekolah
hairstylist bernama Johnny Andrean School & Training. Pendirian sekolah ini
bertujuan untuk menghasilkan hairstylist yang kompeten dan profesional. Dengan
bekal kehalian tata rambut yang dimilikinya, lulusan dari sekolah ini nantinya
ditempatkan pada salon-salon Johnny Andrean yang telah tersebar di seluruh
Indonesia.
Donat J.CO
Kesuksesan di bisnis
salon dan roti BreadTalk tenyata tak membuat Johnny berpuas diri. Ia pun kembali
melakukan ekspansi bisnis di industri beverage. Kali ini donat menjadi
sasarannya. Saat akan membuka bisnis donat ini, Johnny sempat berpikir untuk
menggunakan konsep yang sama dengan BreadTalk yaitu membeli hak waralaba dari
luar negeri.
Namun setelah
dianalisis, Johnny kemudian mengurungkan niatnya karena donat luar negeri
dirasa kurang memenuhi standar. Analisis Johnny sendiri waktu itu memang tak
sembarangan, ia mendapatkan ilmu dan wawasannya dari kegiatan survei dan
risetnya ke berbagai negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang dan
berbagai negara Eropa. Alhasil, keputusannya untuk tidak membeli waralaba luar
negeri pun sangat tepat. Dengan membawa nama J-Co Donuts & Coffe, Johnny
membuka gerai pertamanya tahun 2005. Dengan mengadopsi gerai terbuka seperti
halnya BreadTalk, J.Co ternyata juga disambut pasar dengan luar biasa.
Dalam waktu singkat kini telah ada lebih dari
100 gerai J.Co yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air. Bahkan, J.Co pun
telah merambah negara tetangga,seperti Malaysia, Singapura, Shanghai dan
Filipina.
BreadTalk
Setelah sukses dengan
bisnis salon, Johnny Andrean kemudian memutuskan untuk menjadi master
franchise waralaba BreadTalk dari
Singapura. Sebelum benar-benar membuka gerai pertamanya, Johnny Andrean pergi
ke Singapura dalam beberapa bulan untuk belajar mengolah roti. Setelah memahami
seleuk beluk pengolahan roti , maka pada bulan Maret 2003 ia pun membuka
gerai BreadTalk pertamanya di Mal Kepala Gading, Jakarta. Di tangannya, konsep
waralaba BreadTalk yang telah ada dimodifikasi dan dikreasikan sedemikan rupa
hingga membuahkan hasil yang memuaskan. Gerai BreadTalk tersebut ia desain
terbuka dan transparan, sehingga konsumen bisa melihat proses produksinya.
Akibatnya pengunjung pun tertarik berkunjung ke gerainya dan membeli roti yang
diproduksinya, walaupun harganya tak bisa disebut murah.
Terobosan yang dilakukan
Johnny ini dianggap merupakan sebuah strategi yang cerdas. Sebab selain
konsumen bisa melihat proses pembuatan roti, aroma wangi roti BreadTalk pun
secara tidak langsung menyebar di area mall dan akan menarik selera pengunjung
mall yang ada. Sekarang kesuksesan BreadTalk yang dirintis Johnny telah nampak
dengan jelas pada dijumpainya gerai-gerai BreadTalk di mall-mall seluruh
Indonesia.
Ny. Suharti
Warung Makan Ayam Goreng Ny. Suharti
Ayam Goreng Ny. Suharti pertama kali muncul sejak tahun 1962 di
Yogyakarta.
Pada awalnya Ny. Suharti beserta suami menjual ayam gorengnya berkeliling dari
rumah kerumah di sekitar Yogyakarta. Setelah penjualannya meningkat, muncul
keinginan untuk memperbesar usahanya dengan mendirikan rumah makan. Maka
didirikanlah rumah makan dengan nama Rumah Makan Ayam Goreng Mbok Berek Baru
pada tahun 1969 di Yogyakarta. Dinamakan Mbok Berek Baru karena Ny. Suharti
masih keturunan ketiga Mbok Berek yang juga merupakan pengusaha Ayam Goreng.
Setelah beberapa tahun dirasakan, perkembangan Ayam Goreng Mbok
Berek Baru cukup baik. Maka, Ny. Suharti memutuskan untuk merubah nama rumah
makannya dengan nama “Rumah Makan Ayam Goreng Ny.Suharti” pada tahun 1972
dengan pusat di JL.Sucipto No.208 Yogyakarta. Perkembangan Rumah Makan Ayam
Goreng Ny.Suharti ternyata sangat pesat. Terbukti dengan didirikannya beberapa
cabang di beberapa kota besar di Indonesia , seperti : Jakarta , Bandung
, Semarang , Surabaya , Pekan Baru , Medan dan Lampung.
Ini merupakan perusahaan perorangan yang di bangun berdasarkan
prinsip kekeluargaan. Konsep kekeluargaan diterapkan pada Pimpinan dan Karyawan.
Dimana setiap karyawan dituntun untuk menciptakan hubungan yang harmonis,
perasaan saling memiliki serta tanggung jawab bersama. Konsep inilah yang
menjadi rumah makan Ayam Goreng Ny.Suharti terlihat lebih unik dan mendapat
preferensi khusus dari konsumennya.
Hendy Setiono
Kebab Turki Baba Rafi
Nama Baba Rafi mungkin sudah tidak asing di telinga kita, dengan
produk andalan kebab turki telah mengantarkan Hendy Setiono menjadi pengusaha
sukses di Tanah air. Pria yang kini menjabat sebagai direktur PT. Baba Rafi
Indonesia ini telah merintis usaha kebab turki Baba Rafi sejak beberapa tahun
yang lalu. Meski Kebab bukanlah makanan Indonesia namun makanan Timur Tengah
ini cukup diminati di Indonesia. Ide membuka usaha kuliner kebab Turki berawal
dari kegemarannya berwisata kuliner, yang kebetulan saat itu ia berkunjung ke
Qatar dan menjumpai banyak makanan tradisional Turki. Akhirnya ia mengembangkan
makanan tradisional Turki tersebut di Indonesia. Nama Baba Rafi diambil dari
bahasa arab Baba yang artinya Bapak dan Rafi adalah nama anaknya Rafi Darmawan.
Perjalanan bisnis Baba Rafi
tidaklah mudah, usaha bisnis pria jebolan Jurusan Teknik Informatika Institut
Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya ini tidak mendapat dukungan dari orang
tuanya sendiri. Bisa dimaklumi karena dari latar belakang keluarga memang tidak
ada yang bergerak dalam dunia bisnis. Selain itu prospek bisnis kebab turki
saat itu belum jelas keuntungannya. Tidak hanya itu perjalanan Hendy merintis
usaha kebab Turki harus dilakukan dengan susah payah, ia berjualan sampai
kehujanan, jatuh hingga rotinya berserakan di jalan. Ada lagi pengalaman , uang
hasil penjualannya dibawa kabur oleh karyawan penggantinya. Selain itu masalah
yang muncul pada permodalan, saat itu modal usaha dari bank cukup menyulitkan
karena bunga bank untuk usahanya cukup besar karena tingkat resiko usaha Kebab
Turki saat itu cukup besar. Namun usaha dan kerja keras Hendy ini ternyata
tidak sia-sia, usaha Kebab Turki Baba Rafi telah menggurita hingga ke pelosok
negeri. Usaha Hendy yang kini bernaung pada PT. Baba Rafi Indonesia menaungi beberapa
produk tidak hanya kebab Turki saja tetapi ada juga Roti Maryam Aba-Abi, Nasi
Goreng Kebab Baba Rafi, dan Chicken Kebab Baba Rafi. Selain itu Hendy juga
menjadi direktur PT. Piramida Zahira (Piramizza), dan PT. Panen Raya Indonesia
(ayam bakar Mas Mono). Ke depan ia berencana mengembangkan usahanya di
Malaysia. Ia melihat Malaysia pasar potensial untuk Kebab Turki-nya karena
merupakan negara yang serumpun dengan Indonesia.
Abu Bakar Husen
Mie Aceh Jaly - Jaly
Untuk menjadi seorang
pebisnis yang sukses, latar pendidikan bukan menjadi sebuah jaminan. Siapapun
dengan basik pendidikan tingkatan apa saja memiliki kesempatan yang sama untuk
menjadi sukses. Orang dengan pendidikan rendah pun jika memang mempunyai sikap
dan kemauan yang kuat dalam berbisnis, maka peluang untuk menjadi seorang yang
sukses berbisnis akan semakin terbuka.Satu contoh yang nyata, hanya berbekal
ijazah SMA Abu Bakar Husen berbisnis dengan penghasilan bahkan sampai ratusan
juta. Abu Bakar Husen seorang pria kelahiran Aceh, 26 Juni 1970 ini merengkuh
kesuksesan dengan mengelola bisnis kuliner. Ia memutuskan untuk fokus mengelola
restoran mie dengan nama Mie Aceh Jaly Jaly.
Bermula dari sebuah mimpi
Usaha yang dijalankan oleh Abu Bakar Husen ini berawal dari sebuah angan dan
mimpinya sejak dia SMP. Ia bercerita bahwa sejak SMP bermimpi memiliki sebuah
restoran sendiri, namun karena keterbatasan orang tuanya sehingga tidak mampu
melanjutkan kuliah di bidang tata boga, sehingga sekolahnya hanya sampai SMA.
Tetapi ia tidak mau berhenti begitu saja, ia tetap bertekat dan berkeras hati
untuk mewujudkan cita – cita nya. Dengan berbekal tekad bulat, akhirnya ia
memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan memulai bisnis nya. Pada awal nya tahun
1997 ia mulai membuka sebuah gerai dengan menjual martabak di daerah Mal Blok
M. Setelah itu beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006 ia mulai
merintis Mie Aceh Jaly Jaly pertama milik nya yang berada di ITC Kuningan
Jakarta.
Awal mulanya bisnis kuliner
yang ia dirikan deberi nama Ceng Yan, namun pada tahun 1999 berganti nama
menjadi Mie Aceh Jaly Jaly. Kemudian tepat pada tahun 2009 setelah outlet
pertamanya berjalan tiga tahun, Abu Bakar Husen mendirikan outlet miliknya yang
kedua yang berada di Jalan Supomo, Pancoran. Menurut Abu Bakar, salah satu yang
menjadi kelebihan racikannya adalah semua bumbu dan bahan – bahan yang ada di
restorannya diracik sendiri. Ada sekitar 25 bumbu pokok yang secara spesial
langsung didatangkan dari Aceh yang kemudian diracik sendiri oleh Husein.
Menurut Abu Bakar dengan racikan sendiri, menu yang disajikan tetap memiliki
khas rasa kampung namun dengan selera kota. Sejak tahun 2001 restoran yang
digawangi Abu Bakar Husen sudah menawarkan beberapa macam menu makanan. Selain
tentunya menu andalan yaitu mie goreng Aceh, juga ada martabak Aceh, roti cane,
timun kerek dan masih ada beberapa menu lainnya.
Husen mengaku sangat bangga
dalam mengelola bisnis kulinernya saat ini. Dengan memimpin 23 karyawan, Husen
bercita – cita terus mengembangkan bisnis nya hingga memiliki 100 karyawan.
Pada awalnya, Husen mengaku untuk membuka bisnisnya sehari ia menghasilkan 10
kg mie dengan omzet senilai 600 ribu sampai 700 ribu. Namun saat ini ia
menuturkan dari outlet yang berada di Supomo ia mengeluarkan 40-60 kilogram mie
dalam waktu satu hari. Dengan kebutuhan mie sebanyak itu, estimasi pemasukan
bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam satu hari. Jika itu diakumulasikan
dalam satu bulan, maka omzet ratusan rupiah rasanya mudah sekali tercapai. Untuk
saat ini, Husen menyebutkan ada 22 outlet yang menyebar di Jabodetabek. Outlet
Husen ada di beberapa titik, Tanah Kusir, Bintaro, Blok M, BSD Tangerang,
Bekasi dan ada di beberapa titik yang lain. Ke depan, Husen berencana membuat
terobosan dengan membeli mobil boks untuk menjemput pelanggannya yang berada di
daerah – daerah pelosok Jabodetabek. Ia menargetkan pada akhir tahun 2015 ia
akan mulai menggunakan mobil boks 2-3 mobil dahulu.
Dengan target yang ia
canangkan tersebut, satu tahun kemudian mobil akan mencapai sepuluh boks. Mobil
– mobil tersebut rencananya akan ditaruh pada tempat yang ramai pengunjung.
Bisa ditaruh di area perkantoran hingga tempat nongkrong muda – mudi misalnya di
daerah Menteng. Dengan trobosan seperti itu, diharapkan bisa semakin
meningkatkan percepatan perkembangan usaha bisnisnya dan kini dengan
keberhasilan usahanya beliau mendapatkan omzet ratusan juta. Satu kisah yang sangat menginspirasi buat
kita semua. Apapun sekolah Anda, jangan membatasi kemampuan diri Anda hanya
dengan sebuah ijazah. Yakinkan pada diri Anda, bisnis adalah sesuatu yang akan
menantang diri Anda untuk menjadi lebih besar.
Djoko Susanto
Alfamart
Alfamart merupakan toko
retail yang sekarang sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita. Seperti
yang kita ketahui, hingga sampai saat ini alfamart mempunyai kurang lebih 3500
gerai yang terletak diberbagai kota besar Indonesia bahkan sampai ke kampung-kampung.
Gerai alfamart telah menyebar diberbagai pelosok daerah di Indonesia dan
menghadirkan berbagai macam Promo Indonesia. Alfamart merupakan milik PT.
Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. yang merupakan perusahaan waralaba swalayan yang
menjual barang keperluan sehari-hari.
Awal mula nama alfamart
sendiri adalah alfa minimarket sebagai perusahaan dagang aneka produk oleh
Djoko Susanto sekeluarga dan pertama beroperasi di karawaci, tangerang, banten.
Perkembangan alfamart dibilang sangat cepat, meskipun banyak saingan utama
seperti Indomart dan lain-lain. Perusahaan yang berkantor pusat di Jl. M.H.
Thamrin No. 9, Tangerang ini memulai usaha komersilanya pada 1989 dalam bidang
perdagangan rokok. Namun sejak tahun 2002, Alfamart bergerak dalam kegiatan
usaha perdagangan eceran untuk produk konsumen dengan mengoperasikan jaringan
minimarket dengan nama “Alfamart” yang berlokasi di beberapa tempat di Jakarta,
Cileungsi, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Cirebon, Cilacap, Semarang,
Lampung, Malang dan Bali. Jaringan minimarket perusahaan yang didirikan Djoko
Susanto, mantan eksekutif produsen rokok raksasa, HM Sampoerna ini terdiri dari
minimarket milik sendiri dan minimarket dalam bentuk kerjasama waralaba, dengan
jumlah minimarket milik sendiri 2.396 (2009) dari semula 2.067 (2008) dan kerja
sama waralaba 798 (2009) dari 592 (2008).
“To be nothing is the result
doing nothing” merupakan motto hidup yang dipegang pendiri alfamart ini. A Kwie
Atau yang sering disebut Djoko Susanto lahir di djakarta 9 februari 1950.
Baginya, Mimpi tidak hanya bertengger menjadi mimpi ketika disiasati oleh kerja
nyata dan usaha menembus peluang yang tidak kenal menyerah. Bagi Djoko Susanto,
mimpi adalah hoki yang mampu mengendus peluang. Dan, bahan bakarnya adalah
kerja keras, jujur, dan punya komitmen dalam menjalankan sebuah usaha. Terlahir
dari keluarga pedagang kelontong yang putus sekolah, Djoko Susanto telah
mengenali napas perjuangan sejak ia masih balita, Aroma rumahnya serba berbau
kerja keras, Pagi mengantarkan kerja, malam juga diakhiri dengan kerja. Semua
dilakukan demi hidup, demi keberlangsungan napas keluarga. Situasi itu
sesungguhnya sangat mudah memantik frustasi, tapi tak terjadi pada Djoko. Ia
tak menyerah menghadapi nasib. Realita kehidupan justru ia jadikan pelecut
untuk bergerak memanfaatkan apa yang ia punya, yakni sejumput ilmu perdagang.
Andai saja pada waktu itu Djoko tidak berani merubah hidupnya kerabat, teman,
dan lingkungan pergaulanya hanya akan mengenal Djoko Susanto sebagai pedagang
kelontong
Kegigihannya melewati proses
mengantarnya pada fase-fase yang memajukan. Lihatlah perjalanannya. Karier
bisnisnya dimulai dari sebuah toko kelontong milik keluarga di bilangan Petojo,
Jakarta Pusat, sekitar tahun 1967. Kemudian ia meningkatkan keberadaannya
dengan memiliki toko kelontong sendiri. Dan Akhirnya Djoko menjalankan bisnis
grosir penjualan rokok melalui toko kelontongnya itu. Usaha kelontong bernama
Toko Sumber Bahagia ini menjadi cikal bakal kelompok bisnis ritelnya yang
bernama Alfamart dibawah bendera PT. Sumber ALfaria Trijaya Tbk (SAT).
Didalam setiap proses
tersebut, Djoko menjadi pelakon yang mengumuli dengan setia setiap elemen
usahanya. Ia mengetahui dengan rinci setiap bagian dari bisnis yang
dijalankannya sehingga ia menguasai setiap masalah yang muncul dan strategi
untuk mengatasinya. Sikap ini dengan cepat membuatnya mampu membaca pasar yang
lebih luas dan akhirnya terbang berkembang. Kesuksesan yang diraih Djoko
“Alfamart” Susanto tersebut dimulai dari kerja kerasnya sejak tahun 1967.
Ketika itu, Djoko Susanto yang masih berusia 17 tahun diminta untuk mengurusi
kios orangtuanya di Pasar Arjuna, Jakarta. Kios “Sumber Bahagia” seluas 560
meter persegi itu menjual bahan makanan dan juga rokok. Tidak hanya kepada para
perokok, Djoko Susanto juga menjual rokoknya kepada para pengecer dan penjual
grosir rokok. Kesuksesan Djoko Susanto itu menarik perhatian Putera Sampoerna
yang memiliki perusahaan rokok terbesar di Indonesia saat itu. Pertemuan
pertama kali di hotel mandiri pada tahun 1980 menjadi tonggak perubahan jalan
hidup Djoko Susanto. Meskipun saat itu keraguan sempat menyelimutinya. Djoko
yang merasa tidak memiliki kemampuan yang hanya mengecap bangku sekolah sampai
kelas 1 SMA dan tidak dapat berbahas inggris, namun setelah Putera Sampurna meyakinkan
bahwa yang diperlukan adalah kemampuan Djoko menjual, rasa percaya dirinya pun
langsung menyeruak, ia berpikir ajakan orang nomor satu PT. Sampurna, Tbk. ini
merupakan tantangan baginya.
Djoko Susanto pun menerima
ajakan dari Putera Sampoerna untuk bekerja sama. Langkah awal dimulai dengan
mengembangkan tokoh grosir rokok sumber bahagia milik Djoko. Dengan modal 2
miliar (60% saham milik putra dan 40%nya milik Djoko) Djoko memperluas jaringan
pasrnya dengan membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta pada tahun
1985. Karena usaha Djoko, toko-toko ini menjadi jaringan alfa toko gudang
garam yang menjual segala produk consumer goods. Kerja sama antara keduanya
kemudian berlanjut dengan pembukaan supermarket Alfa Toko Gudang Rabat.
Dibawah PT. Alfa Retalindo Tbk.
saat ini jaringan alfa sudah merambah keberbagai kota dan hampir ke kota-kota
besar di Indonesia. Karena perkembangan alfa semakin cepat membuat Putera Sampurna
tertarik pada kemampuan dan kesuksesan Djoko. Pada tahun 1990 Putera mempercayakan
jabatan direktur penjualan PT. HM Sampurna Tbk. di pundak Djoko. Ini merupakan
babak baru dalam karier profesional Djoko Susanto. Adapun jabatan yang pernah
disandang Djoko direktur PT. HM Sampoerna Tbk., presiden direktur PT. Alfa Retalindo
Tbk., presiden direktur perusahan dagang PT. Panamas Tbk., direktur utama
PT. Setia Megaserta direktur utama PT. Sigmantara Tbk. Tahun 1994, Djoko
Susanto kemudian mendirikan gerai yang awalnya ingin memberi nama Sampoerna
Mart, namun akhirnya dinamakan Alfa Minimart.
Tahun 2005, Sampoerna
menjual sebagian sahamnya kepada Philip Morris Internasional, termasuk 70
persen saham Sampoerna di Alfamart. Philip Morris International yang tidak
tertarik dengan industri retail akhirnya menjual sahamnya ke Djoko Susanto dan
investor ekuitas Northstar.
Djoko Susanto membeli saham
Alfamart di Northstar hingga ia memiliki total 65 persen saham Alfamart. Djoko
Susanto kemudian memperdagangkan sahamnya yang kemudian menghasilkan dua kali
lipat dalam jangka setahun terakhir. Berkat langkah berani yang diambil Djoko
Susanto itu, kini ia memiliki total kekayaan sebesar 9,36 triliun Rupiah. Beberapa
tahun ini sejumlah penghargaan juga diraih Alfamart, seperti Top Brand Award
dan Indonesia Best Brand Award 2009, yang mencerminkan pencapaian kinerja
perseroan yang terus membaik. Selain itu, prestasi Alfamart juga dapat dilihat
dari jumlah gerai Alfamart yang terus berkembang pesat. Sebagai gambaran, per
31 Desember 2008, Alfamart memiliki 2.157 gerai minimarket dan 622 minimarket
Alfamart dalam bentuk waralaba. Angka ini terus berkembang dengan jumlah gerai
per Mei 2009 mencapai 3.000 buah dengan gerai berbentuk waralaba sebanyak 711
buah yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.
Tugas Kewirausahaan
Naryati (57214821)
Salsabila (59214954)
Syarifatus Sa’diah (57212263)
Kelas :
2DF01





